Tugas yang tidak seperti biasanya, memerlukan kerja sama satu kelas, memerlukan keharmonian dan kesatuan kelas, uprak ini telah memberi pengalaman yang sangat baru. Kelas saya mengangkat tokoh Joko Pinurbo, sebuah penulis puisi beragama katolik yang telah teguh menjalankan imannya dalam karyanya. Dalam tugas yang besar ini, saya dipercayakan sebagai PIC publikasi dan dancer.
Dalam persiapan berbulan-bulan, saya sangat enjoy proses latihannya. Terdapat momen-momen kecil setiap latihan yang membuatnya lebih asik dan dekat dengan sesama teman kelas. Tak hanya momen-momen kecil tetapi progress setiap latihan ini lah yang membuatnya menjadi worth it. Dalam latihan nari dan latihan drama secara keseluruhan, kita diajarkan untuk fokus kepada momen, untuk peka dalam setiap situasi, dan juga untuk saling menolong walaupun berbeda bidang.
Peristiwa yang paling berkesan bagi saya adalah saat kita latihan nari dan mengerjakan props bersama teman-teman. Ada yang menggergaji kayu, mengecat, memotong kertas, menggambar sketsa, dan brainstorming ide-ide bersama tentang apa saja yang bisa ditambah di drama kita. Latihan nari yang asik dan memakai fisik, membenarkan detail-detail koreo dari setiap anak, melihat progress bersama. Hal-hal seperti ini lah yang membuat latihan bersama itu sangat menyenangkan.
Tak lupa juga dengan posisi saya sebagai PIC publikasi, saya diberkati juga dengan anggota-anggota publikasi yang dapat diandalkan dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Saya mengeksplor kembali kemampuan saya sebagai seorang pemimpin. Walaupun saya merasa masih ada yang kurang tetapi hasil kerja keras kami semua pun akhirnya juga diapresiasi dengan sesama. Menjadi seorang PIC mengingatkan saya kembali apa artinya untuk menjadi seorang pemimpin, cara mengambil kendali, membagi tugas, dan cara menjaga divisi ini untuk tetap berjalan dengan baik.
Selama persiapan uprak tentu saja terjadi konflik dan cecokan di dalam kelas. Ada yang merasa puas dan juga ada yang tidak. Tetapi setelah menjalankan semuanya bersama, saya yang awalnya juga ragu dengan kelasnya kita menjadi puas dengan hasil akhir saat penampilan di Bangsal pada 12 februari kemarin. Kerja keras setiap orang tidak sia-sia mau itu besar atau kecil, semuanya berkontribusi pada hasil penayangan drama kami. Sedikit sedih juga karena ini benar-benar merupakan projek terakhir kami sebagai kelas sebelum lulus dan pergi ke jalannya masing-masing. Pengalaman berharga ini yang tidak ada di sekolah lain akan saya selalu kenang dan membawa pelajaran-pelajarannya ke dalam keseharian saya juga.




