Refleksi Uprak / Louisa Shannon Hostiadi / XII-B1 / 27

Kegiatan Uprak menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan sekaligus paling berkesan bagi saya selama sekolah. Proyek ini bukan sekadar tugas biasa, tetapi penilaian besar yang melibatkan semua mata pelajaran. Sejak awal kami sudah menyadari bahwa prosesnya tidak akan mudah. Tantangan pertama muncul ketika kelas kami memutuskan untuk tidak mengangkat tokoh yang umum dipilih, melainkan seorang sastrawan Indonesia yang lebih modern dan jarang dibawakan, yaitu Joko Pinurbo. Pilihan ini membuat kami harus bekerja lebih kreatif karena alur hidup beliau tidak penuh adegan dramatis seperti tokoh lain. Kami harus memikirkan cara agar cerita tetap menarik tanpa kehilangan makna yang ingin disampaikan.

Di tahap awal, kami mendapat tugas kolaborasi dari pelajaran sejarah, agama, dan Bahasa Indonesia untuk membuat rangkuman biografi beberapa tokoh. Dari situ, kelas kami akhirnya sepakat untuk fokus pada satu tokoh dan mulai menyusun konsep drama. Setelah pembagian tugas dilakukan, saya masuk ke divisi dekorasi. Tugas pertama saya adalah menentukan properti yang diperlukan untuk setiap adegan, kemudian mempresentasikannya kepada guru sie acara untuk mendapatkan persetujuan. Proses ini cukup menegangkan karena kami harus benar benar yakin dengan pilihan kami sebelum mulai membuat atau mengumpulkan properti tersebut.

Latihan pertama di bangsal menjadi gambaran bahwa perjalanan kami masih panjang. Banyak yang masih belum hafal dialog, blocking belum jelas, dan alur cerita belum terasa menyatu. Setelah latihan, guru memberikan cukup banyak masukan dan mengatakan bahwa penampilan kami masih tertinggal dibanding kelas lain. Mendengar hal itu saya merasa khawatir sekaligus terpacu untuk memperbaiki diri.

Pada latihan kedua, persiapan kami memang lebih matang, tetapi muncul masalah baru yang cukup besar. Durasi drama mencapai sekitar 30 menit, sementara batas maksimal hanya 20 menit termasuk perpindahan properti. Selain itu, ada masukan bahwa pemeran utama kurang cocok sehingga perlu penyesuaian. Tekanan mulai terasa karena waktu menuju hari pentas semakin sedikit sementara revisi yang harus dilakukan cukup banyak.

Setelah latihan kedua inilah mulai muncul beberapa ketegangan di dalam kelas. Perbedaan pendapat muncul karena semua orang ingin hasil terbaik, tetapi memiliki cara pandang yang berbeda. Di divisi dekorasi, ada yang merasa properti kami terlalu sedikit dan khawatir panggung terlihat kosong, sementara yang lain merasa jumlah tersebut sudah cukup mengingat keterbatasan waktu dan tenaga. Saya sendiri sempat bingung harus berada di pihak mana, karena kedua pendapat sama sama masuk akal. Selain itu, sempat terjadi perbedaan opini mengenai desain poster dan pembagian tugas. Miskomunikasi membuat suasana kelas sempat kurang nyaman, bahkan terasa ada jarak antar teman. Namun setelah beberapa kali diskusi dan mendapat arahan dari guru, kami perlahan bisa menenangkan diri dan kembali fokus pada tujuan utama.

Perubahan besar terjadi ketika kami sepakat untuk memangkas beberapa adegan dan merombak alur cerita agar lebih padat. Hasilnya, durasi drama berhasil dipersingkat menjadi sekitar 15 menit. Jika ditambah waktu perpindahan properti sekitar 5 menit, totalnya menjadi pas dengan ketentuan. Melihat hasil latihan setelah perubahan tersebut membuat saya merasa jauh lebih lega. Guru guru juga mulai mengapresiasi perkembangan kami dan mengatakan bahwa ada peningkatan yang signifikan. Hal itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berusaha.

Memasuki gladi kotor, penampilan kami berjalan cukup lancar meskipun masih ada kendala pada pergantian kostum dan penempatan properti. Pada gladi bersih, alur sudah terasa lebih rapi dan kami mulai percaya diri. Sebagai sie dekorasi, saya benar benar merasakan tanggung jawab karena setiap perpindahan adegan bergantung pada ketepatan kami memindahkan properti.

Hari H akhirnya tiba. Kelas kami tampil pada pukul dua hingga tiga sore, dan saya sudah datang lebih awal untuk memastikan semua properti siap. Saat pertunjukan berlangsung, saya fokus memindahkan properti dengan cepat dan tidak mencolok. Ada satu kesalahan yang saya lakukan, yaitu papan properti yang posisinya kurang ke tengah dan sempat berputar karena penyangganya rusak saat latihan sebelumnya sehingga harus diganti dengan alternatif yang kurang stabil. Selain itu, ada taplak meja yang terlihat kurang rapi. Namun secara keseluruhan, kesalahan tersebut tidak terlalu terlihat oleh penonton sehingga pertunjukan tetap berjalan lancar.

Pada akhirnya, drama kami dapat tersampaikan dengan cukup baik dan pesan tentang sosok Joko Pinurbo bisa diterima oleh penonton. Mendengar bahwa guru guru memberikan tanggapan positif membuat saya merasa semua usaha, kepanikan, dan kelelahan selama proses latihan terbayar. Saya juga merasa bangga karena meskipun tidak tampil di panggung, peran di balik layar tetap memiliki kontribusi penting terhadap keberhasilan pertunjukan.

Walaupun sebenarnya kelas kami tidak selalu kompak selama proses ini, saya tetap merasa bahagia karena pada akhirnya kami mampu menyelesaikan drama ini dengan hasil yang cukup baik. Banyak perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan perasaan tidak nyaman yang sempat muncul, tetapi saya berharap semua itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi kami. Dari pengalaman ini, kami bisa belajar untuk lebih memahami satu sama lain dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Saya juga berharap konflik yang sempat terjadi dapat benar benar berakhir dan tidak meninggalkan rasa tidak enak di antara kami. Waktu kebersamaan kami sebagai satu kelas sudah tidak lama lagi, sehingga akan sangat disayangkan jika harus diisi dengan suasana yang canggung. Semoga di sisa waktu yang ada, kami bisa menjadi lebih kompak, saling mendukung, dan menjalani hari hari terakhir bersama dengan perasaan yang lebih ringan sebagai satu kelas yang utuh.



 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *