“Never ask about the better team, because the stage only shined when we stood together.”
Kalimat itu benar-benar menggambarkan akhir perjalanan kelas XII B1 dalam mempersiapkan uprak sampai hari H tampil. Begitu banyak hal selama proses ini yang di luar ekspektasi saya. Bahkan sejak awal latihan sie acara, kelas kami sudah mendapat cap sebagai kelas yang kacau. Saat itu, Ma’am Vian sempat berkata, “Your class is the worst.” Kalimat itu jujur saja terasa seperti tamparan. Rasanya malu, kecewa, bahkan sempat membuat saya berpikir bahwa mungkin ekspektasi orang terhadap kami memang serendah itu.
Namun, hal itu tidak membuat kami pantang menyerah. Justru dari sanalah perlahan muncul keinginan untuk membuktikan bahwa kami bisa berubah. Jika harus mendeskripsikan kelasku sebelum uprak dengan satu kata, mungkin jawabannya adalah “ragu.” Dari awal, suasana terasa kurang kondusif. Komunikasi belum berjalan baik, latihan belum maksimal, dan kekompakan belum benar-benar terasa. Saya bahkan berpikir, mungkin tidak perlu berharap terlalu tinggi, cukup lakukan yang terbaik saja.
Namun ternyata, pandangan saya salah.
Memasuki minggu-minggu terakhir sebelum uprak, perlahan semuanya berubah. Yang awalnya kurang komunikasi mulai belajar mendengar. Yang awalnya terasa berjalan sendiri-sendiri mulai saling menghargai. Latihan menjadi lebih serius, kerja sama meningkat, dan tanpa sadar rasa percaya itu mulai tumbuh. Kalimat “kelas terburuk” yang pernah kami dengar perlahan berubah menjadi motivasi. Kami tidak ingin dikenal sebagai kelas yang kacau, tetapi sebagai kelas yang mampu bangkit.
Ada tawa, ada lelah, ada hectic yang hampir membuat menyerah, tetapi semuanya tercampur menjadi satu cerita yang tidak akan pernah tergantikan. Dari mengatur jadwal latihan, menentukan tempat, shooting trailer, hingga detail kecil yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Setiap prosesnya membuat saya belajar banyak dan semakin mengenal teman-teman sekelas saya lebih dalam.
Tidak selalu berjalan mulus. Ada momen ketika Ajere, sutradara kami, marah karena kami kurang fokus. Ada saat-saat kelas kami mengalami kesalahpahaman, suasana sempat tegang, dan komunikasi terasa kembali berantakan. Bahkan ada momen di mana rasanya ingin berhenti saja karena terlalu lelah dengan keadaan. Namun tidak apa-apa, itu adalah proses yang membawa kami belajar untuk lebih dewasa, lebih terbuka, dan lebih mengerti satu sama lain. Dari situ kami belajar bahwa kerja tim bukan tentang selalu sepakat, tetapi tentang bagaimana menyelesaikan perbedaan tanpa meninggalkan satu sama lain. Proses itu yang justru menguatkan kami, membuat kami semakin solid menjelang hari H.
Sebagai anggota publikasi dan dokumentasi, tugas saya membuat post dan story countdown Instagram, shooting trailer, serta mempublikasikan drama kami. Namun saya juga ikut terlibat membantu bagian dekor, membuat properti sampai lupa waktu, sudah malam tetapi masih mengobrol, bercanda, bahkan karaoke bersama. Ada momen-momen kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi justru itulah yang paling membekas. Karena di sela-sela kelelahan, kami menemukan kebersamaan yang tulus.
Sebagai narator, saya belajar bahwa membawakan cerita bukan hanya soal membaca teks. Dari latihan di depan cermin, merekam suara sendiri dan mendengarkannya berulang kali, sampai tenggorokan sakit dan batuk. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya bahkan sempat sakit, tetapi justru dari situ saya menyadari bahwa narator harus mampu menghidupi cerita, bukan sekadar menyampaikannya. Narator harus membuat penonton merasakan emosi, masuk ke dalam alur, dan benar-benar terhubung dengan cerita yang dibawakan. Dan saya bangga karena saya tidak menyerah di tengah proses itu.
Dan akhirnya, 12 Februari tiba. Hari yang kami tunggu sekaligus kami takuti. Panggung itu terasa seolah berubah menjadi lautan cahaya yang gemerlapnya mampu menenggelamkan seluruh keraguan kami, seakan-akan seluruh dunia berhenti hanya untuk menyaksikan kami. Tepuk tangan yang bergemuruh terasa seperti badai yang memecah semua label dan keraguan yang pernah diberikan kepada kami. Dalam momen itu, saya sadar bahwa semua lelah, semua marah, semua kesalahpahaman, dan semua air mata adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk sebuah penampilan yang luar biasa.
Dari kelas yang pernah disebut “the worst”, kami berdiri di atas panggung dengan versi terbaik dari diri kami. Bukan karena kami sempurna, tetapi karena kami memilih untuk tidak menyerah.
Saya begitu bangga pada setiap anggota XII B1. Semua tampil maksimal, memberikan yang terbaik, dan membuktikan bahwa perjuangan kami tidak sia-sia. Keringat, waktu, tenaga, bahkan rasa sakit yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, semuanya terbayar lunas.
Terima kasih banyak XII B1 atas cerita indah selama uprak ini. Terima kasih sudah berjuang, sudah sabar, sudah bertahan, dan tidak menyerah meskipun prosesnya tidak selalu mudah. Terima kasih sudah membuktikan bahwa sebuah kelas yang dianggap kacau pun bisa berubah menjadi tim yang solid ketika semua mau berusaha.
If I could turn back time, I would choose to relive these chaotic, exhausting, beautiful days all over again.
It’s a wrap, guys…
but the memories, the laughter, the tears, and the pride of proving everyone wrong together will stay with us far longer than the applause ever did.






