LEARNING BEYOND THE STAGE
Fiona Khara XII-B1/15
Ujian praktik bagi saya bukan sekadar penilaian akhir, melainkan sebuah proses pembelajaran yang bermakna. Selama beberapa minggu persiapan, kami belajar bekerja sama, membagi waktu, dan bertanggung jawab atas peran masing masing. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa proses yang dijalani bersama justru lebih membentuk karakter dibandingkan hasil akhirnya.
Dalam pementasan ini, saya berperan sebagai aktor pendukung dengan karakter Ketua Redaksi. Walaupun bukan tokoh utama, peran ini memiliki fungsi penting dalam memperkuat alur dan konflik cerita. Sebagai Ketua Redaksi, saya harus menampilkan sosok pemimpin yang tegas, tenang, dan bertanggung jawab. Tantangan terbesar bagi saya adalah membangun karakter tersebut agar terlihat alami dan tidak berlebihan. Saya berlatih mengatur intonasi suara supaya terdengar lebih mantap, menjaga kontak mata saat berdialog, serta menyesuaikan ekspresi wajah dengan situasi yang terjadi dalam adegan.
Selain menjadi aktor pendukung, saya juga bertugas sebagai MC. Peran ini menuntut kesiapan mental yang lebih besar karena saya harus berbicara di depan banyak orang. Saya perlu memastikan suara terdengar jelas, tempo berbicara tidak terlalu cepat, dan sikap tetap percaya diri. Untuk itu, saya melatih teks pembuka dan penutup secara berulang agar lebih lancar dan tidak bergantung sepenuhnya pada hafalan.
Namun dalam perjalanan uprak, tentu ada berbagai kesulitan yang kami alami. Salah satu kesulitan utama adalah mengatur waktu latihan di tengah kesibukan tugas sekolah lainnya. Tidak semua anggota memiliki jadwal yang sama, sehingga sering kali kami harus menyesuaikan waktu dan berkompromi. Situasi ini sempat membuat latihan terasa kurang maksimal karena keterbatasan waktu yang tersedia. Selain itu, dalam proses latihan juga muncul perbedaan pendapat. Ada kalanya ide yang satu tidak langsung diterima oleh yang lain. Jika tidak disikapi dengan bijak, perbedaan ini bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kekompakan kelas.
Untuk menghadapi kesulitan tersebut, kami berusaha mencari solusi bersama. Dalam mengatur waktu, kami sepakat membuat jadwal yang disesuaikan dengan kesepakatan bersama dan berusaha disiplin untuk hadir tepat waktu. Kami juga memanfaatkan waktu yang tersedia secara maksimal agar latihan tetap efektif. Saya belajar bahwa komitmen dan tanggung jawab pribadi sangat menentukan keberhasilan uprak ini. Dalam menghadapi perbedaan pendapat, kami belajar untuk saling mendengarkan dan menghargai. Kami mencoba melihat setiap ide sebagai kontribusi yang berharga. Sikap rendah hati dan keterbukaan menjadi kunci agar konflik kecil tidak berkembang menjadi masalah besar. Dari sini saya menyadari bahwa kerja sama yang baik lahir dari sikap saling menghormati dan kesediaan untuk mengalah demi kepentingan bersama.
Pada akhirnya, uprak bukan hanya tentang hasil akhir pementasan, tetapi tentang proses pertumbuhan yang kami alami bersama. Saya belajar bahwa kesulitan adalah bagian dari perjalanan yang membentuk karakter. Melalui pengalaman ini, saya semakin memahami arti tanggung jawab, kerjasama, disiplin, dan menumbuhkan kepercayaan antar teman satu kelas.





