Refleksi Uprak – Clarissa Ashley XIIB1/10

A Journey to Remember

Dalam proyek uprak ini, saya mendapatkan peran sebagai scriptwriter dan juga sebagai pemeran ibu dari Joko Pinurbo. Saat awal mendapatkan tokoh Joko Pinurbo, saya sedikit khawatir akan bagaimana kami sebagai scriptwriter bisa membawa jiwa ke dalam drama uprak ini, terutama karena tokoh yang kami dapatkan tidak dramatis seperti kelas-kelas lainnya. Kami cukup kesulitan dalam menyusun script, melakukan riset dan membaca secara langsung karya-karya yang pernah ditulisnya. Beberapa kali kami melakukan revisi script karena script awal yang selesai ditulis terlalu panjang, hingga banyak adegan yang harus dipotong agar tetap masuk dalam durasi waktu yang diberikan.

Di tengah menulis juga sempat terjadi konflik, karena disaat itu tim scriptwriter benar-benar lelah dan bingung bagian mana lagi yang harus diperbaiki dan perbaikan apa yang harus kami lakukan.Namun, setelah berproses dengan lama dan bermalam-malam begadang untuk merevisi script, kami dapat membuat script yang lebih singkat, lebih jelas, namun tetap jalan dengan inti cerita yang pertama kami buat.

Saat menjalani pemeran sebagai ibu, saya juga merasa kesulitan dalam menjiwai peran tersebut, nada berbicara, gesture tubuh, ekspresi wajah harus terus saya latih. Meskipun begitu, saya tetap berlatih keras, tidak bolos latihan. Karena saya tahu saat saya menapakkan kaki saya di atas panggung nanti,kesalahan sedikit dapat merusak nama baik kelas kami.

Saya diberikan kepercayaan yang besar untuk mendapatkan peran sebagai ibu tokoh utama uprak kami, jadi saya tidak akan menyiakan kepercayaan tersebut. Akting dan dialog bisa dilatih, namun saya hanya bisa berdoa agar nantinya pada saat hari-H, semuanya berjalan dengan lancar.

Dari kehidupan tokoh uprak kelas kami, Joko Pinurbo, bagian hidup yang paling menarik menurut saya adalah ketika dia sempat frustasi dengan karya-karya yang pernah dibuatnya hingga dia membakar semua karyanya. Joko Pinurbo tumbuh sebagai anak tunggal di sebuah keluarga yang religius dan menuntutnya untuk menjadi imam.Namun, Joko merasa bahwa itu bukanlah jalan hidupnya, hingga ia akhirnya memilih untuk keluar dari seminari dan menjadi seorang penyair. Ia bahkan menentang keinginan orang tuanya sendiri demi menekuni passion dia. Akan tetapi, jalan tidak selalu mulus.

Puisi-puisi yang ditulisnya sulit diterima oleh kantor redaksi karena kata-kata dan bahasa yang digunakan terlalu vulgar untuk dipublikasikan pada masa itu. Hal ini membuat Joko akhirnya frustasi, karena ia merasa telah salah memilih jalan hidup. Menurut saya hal ini menarik karena di saat itu dia merasa gagal dan salah memilih jalan hidup, hingga ia membakar karya yang pernah dibuatnya. Saya menganggap bagian ini dari hidupnya sangat menarik karena saya merasa saya pernah berada di posisi Joko Pinurbo. Saya juga pernah merasa bahwa saya gagal dan salah memilih jalan, bahwa saya seharusnya tidak memilih jalan yang kupilih saat ini. Tetapi Joko Pinurbo tetap teguh dan terus berjuang. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Yang terpenting bukan berapa kali kita jatuh, tetapi seberapa dalam kita belajar dari jatuh itu.

Dua keutamaan vinsensian yang menonjol dari kisah hidup Joko Pinurbo adalah kelembutan dan kerendahan hati. Joko Pinurbo bukan seseorang yang memiliki kepribadian menonjol, dia bukan seseorang yang suka berkoar-koar. Dia memilih untuk melayani Tuhan melalui puisi, bukan melalui mimbar. tengah kegagalan dan frustasi yang dialaminya, dia bergantung kepada Allah dan tetap terus berjalan hingga akhirnya dia bisa menjadi seorang penyair yang sukses.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *