BEHIND THE CURTAIN
Alessandra Ivana Geenadi/XIIB1/02
Sejujurnya, di awal saya cukup terkejut ketika mengetahui akan ada ujian praktik pergelaran. Saya sempat berpikir bahwa ini hanya akan menjadi tugas kelompok biasa. Namun ternyata, prosesnya jauh lebih serius dan membutuhkan persiapan yang matang. Banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari konsep cerita, pembagian peran, latihan, hingga teknis saat hari pementasan. Dari situ saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini benar-benar melatih tanggung jawab dan kerja sama.
Dalam pergelaran ini, saya dipilih menjadi bagian dari tim scriptwriter. Tugas saya adalah membantu menyusun naskah dari awal hingga akhir cerita. Saya dan tim harus merancang alur yang jelas, membangun konflik yang menarik, menentukan karakter setiap tokoh, serta membuat dialog yang terasa alami. Proses ini tidak mudah karena kami harus berdiskusi berkali-kali dengan sutradara, teman-teman, bahkan guru-guru yang akan menilai. Kami ingin memastikan bahwa cerita yang dibuat sesuai dengan konsep dan pesan yang ingin disampaikan.
Selama proses penulisan, kami beberapa kali melakukan revisi. Ada bagian yang dianggap terlalu panjang, terlalu rumit, atau kurang sesuai dengan tujuan cerita. Bahkan sempat terjadi perbedaan pendapat di dalam tim scriptwriter. Ada yang merasa ceritanya terlalu bertele-tele, ada yang ingin menambahkan adegan, dan ada juga yang ingin menyederhanakan alur. Perbedaan ini sempat menimbulkan ketegangan karena setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Namun akhirnya kami belajar untuk saling mendengarkan dan mencari jalan tengah agar naskah tetap utuh dan bisa diterima bersama.
Kesulitan terbesar sebagai scriptwriter adalah menyatukan berbagai ide menjadi satu cerita yang jelas dan tidak membingungkan. Saya belajar untuk tidak terlalu mempertahankan ego pribadi dan lebih terbuka terhadap kritik dan saran. Saya juga menyadari bahwa naskah adalah dasar dari keseluruhan pementasan. Jika naskah tidak matang, maka penampilan secara keseluruhan juga akan terpengaruh.
Selain menjadi scriptwriter, saya juga bertugas membantu membawa dan mengatur properti saat hari pementasan. Awalnya saya mengira tugas ini sederhana. Namun ternyata, mengatur properti membutuhkan ketelitian dan koordinasi yang baik. Saat gladi bersih, properti yang saya bawa sempat terjatuh. Kami langsung mencari cara agar kejadian tersebut tidak terulang, mulai dari memperbaiki posisi hingga memastikan cara membawanya lebih aman. Tetapi pada hari H, properti tersebut kembali terjatuh. Meskipun sempat membuat suasana tegang, untungnya kejadian itu bisa segera ditangani dan diperbaiki sebelum lampu panggung menyala sehingga tidak mengganggu jalannya penampilan.
Selain kendala teknis, kesulitan lain yang kami alami adalah mengatur waktu latihan di tengah banyaknya tugas dan ulangan. Setiap anggota memiliki kesibukan masing-masing, sehingga sulit menemukan waktu yang cocok untuk semua. Akibatnya, latihan terkadang terasa kurang maksimal. Bahkan pada awalnya, drama kelas kami termasuk yang paling belum siap dibandingkan kelas lain. Hal tersebut sempat membuat kami merasa down dan kurang percaya diri. Kami merasa tertinggal dan khawatir tidak bisa memberikan penampilan terbaik.
Namun, perasaan tersebut justru menjadi motivasi bagi kami untuk bekerja lebih keras. Kami mulai lebih serius dalam latihan, memperbaiki kesalahan satu per satu, dan saling mendukung ketika ada yang merasa lelah. Perlahan, perkembangan mulai terlihat. Dialog menjadi lebih lancar, ekspresi lebih meyakinkan, dan koordinasi antaranggota semakin baik.
Perbedaan pendapat memang masih ada, tetapi kami belajar menghadapinya dengan lebih dewasa. Kami mencoba fokus pada tujuan bersama daripada mempermasalahkan hal-hal kecil. Semangat untuk membuktikan bahwa kami bisa tampil maksimal membuat kami semakin kompak.
Pada akhirnya, semua usaha dan kerja keras tersebut terbayar. Drama yang awalnya dianggap paling belum siap justru berhasil tampil dengan sangat baik. Kami mampu menunjukkan hasil yang maksimal dan bahkan menjadi salah satu yang terbaik. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keterlambatan atau kekurangan di awal bukan berarti kegagalan. Dengan usaha, kerja sama, dan ketekunan, hasil yang baik tetap bisa dicapai.
Dari keseluruhan proses ini, saya menyadari bahwa ujian praktik bukan hanya tentang penampilan di atas panggung, tetapi tentang proses yang terjadi di balik layar. Saya belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, ketahanan, dan pentingnya tidak mudah menyerah. Semua pengalaman ini menjadi pelajaran berharga yang akan selalu saya ingat.













