Refleksi UPRAK – Ajere Siregar /XIIB1/01

Semua Hal Pasti Berakhir.

Dalam proyek kolaborasi ini, aku berperan sebagai sutradara. Pada awalnya, aku merasa ragu dan tidak cukup layak memegang tanggung jawab sebesar itu. Namun, kepercayaan teman-teman menjadi titik balik yang membantuku bertumbuh. Sebagai sutradara, aku tidak hanya mengatur adegan, tetapi juga mengarahkan emosi, menjaga semangat tim, serta memastikan setiap orang merasa dilibatkan dan dihargai.

Di balik itu, ada satu sikap dalam diriku yang perlahan kusadari dan harus kuakui: aku sering meremehkan teman-temanku. Aku terbiasa berpikir bahwa mereka kurang bekerja keras atau tidak memiliki komitmen sebesar yang kuharapkan. Pikiran itu membuatku mudah kesal dan cepat marah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Tanpa kusadari, ekspektasiku yang tinggi berubah menjadi prasangka. Namun, selama proses ini, banyak dari mereka membuktikanku salah. Mereka rela pulang malam untuk menyelesaikan properti, tetap datang latihan meski lelah, dan terus mencoba memperbaiki akting meskipun berkali-kali dikritik. Dari situ aku belajar bahwa komitmen tidak selalu terlihat dari luar; kadang ia hadir dalam bentuk usaha kecil yang konsisten.

Prosesnya memang tidak mudah. Kami menghadapi kritik tajam dari guru-guru, bahkan sempat dinyatakan sebagai drama terjelek. Tekanan itu membuatku beberapa kali meluapkan emosi kepada tim, terutama saat harus merevisi naskah berulang kali, menyelesaikan properti hingga larut malam, dan mengorbankan waktu les demi rapat. Kelelahan fisik dan emosional sempat membuatku goyah.

Namun, alih-alih menyerah, kami menjadikan keremehan itu sebagai motivasi. Aku belajar mengelola emosiku, meminta maaf ketika perlu, dan mulai lebih percaya pada timku. Aku berusaha mendengarkan lebih banyak daripada menuduh, serta memberi ruang bagi mereka untuk menunjukkan tanggung jawabnya. Perlahan, suasana berubah. Tekanan yang awalnya memecah justru menjadi pengikat yang menguatkan kami.

Ketika akhirnya pementasan berlangsung, hasilnya memang tidak sempurna, tetapi cukup untuk membuat mamaku menangis saat menonton. Momen itu menyadarkanku bahwa seluruh proses—amarah, kelelahan, prasangka, kritik, dan perjuangan—tidak sia-sia. Aku merasa lega dan bangga, bukan hanya karena hasilnya, tetapi karena aku telah mengenal diriku lebih dalam dan belajar mempercayai orang lain. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa kepemimpinan bukan tentang merasa paling benar atau paling mampu, melainkan tentang kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk berubah, dan kesediaan untuk bertumbuh bersama tim sampai akhir.

List momen berkesan :

  1. Latihan nari pertama
  2. Pembuatan trailer dan Poster
  3. Diskusi bersama di kelas
  4. Diskusi via discord membahas Script hingga larut malam
  5. Di marahin sekelas karena dramanya lebih dari 30 menit
  6. 2 hari terakhir sebelum tampil, dimana semuanya berkomitmen dan semangat latihan.

 

Catatan : bentuk dokumentasi yang ku miliki lebih banyak berbentuk video, selama latihan saya fokus merekam proses dan jalan drama. Video di bawah merupakan progress dari 4 desember 2025 hingga 12 Februari 2026.

 

Edited : capcut template.

Music : Every breath you take – the Police

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *