Refleksi Uprak-Alicia Nikolee XII B1/03

One Last Curtain

Saya tidak pernah terbayang waktu akan berlalu dengan cepat dan tepat pada tanggal 12 Februari ujian praktek kelas kami pun selesai. Sebagai anak kelas 12, Ujian Praktek atau biasa kami sebut Uprak menjadi hal yang mungkin cukup saya khawatirkan, melihat bagaimana penilaiannya sangat berpengaruh pada rapor akhir nantinya. 

Mungkin kalau saya tidak salah ingat, pembahasan Uprak telah dimulai sejak tahun lalu di bulan September. Dimulai dengan pemilihan sutradara dan segera dilanjut dengan pemilihan tokoh. Baru awal-awal perencanaan, kami sudah mengalami kendala dalam pemilihan tokoh. Saat itu, saya ingat bahwa kami telah matang-matang berdiskusi dan sudah ditarik kesimpulan untuk mengambil seorang tokoh yang cukup terkenal dan cocok untuk dipentaskan. Sutradara juga telah membagi peran serta tokoh, dan mulai membahas alur serta peran-peran lain. Namun, ternyata tokoh kami ditolak atau tidak disetujui dengan alasan telah dipentaskan. Disinilah mulai terjadi hambatan sedikit. Kami bingung karena hampir semua tokoh yang mau kami pilih telah dipilih oleh kelas lain. Lalu entah bagaimana, tercetuslah nama “Joko Pinurbo”, seorang sastrawan yang ahli dalam puisi. Nama sastrawan ini pun akhirnya diajukan oleh tim penulis dan sutradara kepada guru pembimbing. Puji Tuhan, tokoh kami kali ini disetujui. Perasaan lega pun langsung terasa diantara kami. Meski begitu, perjalanan kami untuk merealisasikannya dalam bentuk drama pendek belum selesai. 

Pada Uprak  ini, saya terpilih sebagai pengatur audio. Saya mempunyai tugas untuk mencari dan memilih audio yang cocok untuk dipakai sebagai pelengkap dan penambah emosi di drama nantinya. Jujur awal-awal saya merasa berat, karena hanya saya sendiri. Saya sedikit kesulitan untuk menentukan audio yang cocok karena tidak ada rekan untuk berdiskusi. Untungnya, tak sedikit dari teman-teman yang mau memberi saran mengenai pemilihan audio. Selain itu, ada sedikit kendala lain juga dalam mencari lagu yang cocok. Kisah dari Joko Pinurbo yang ingin kelas kami realisasikan mengambil latar waktu di tahun 80 an hingga 2000 an. Kesulitannya adalah mencari musik bertema lawas tapi tetap menggambarkan pribadi Joko Pinurbo yang selow. Saya sempat pusing karena inginnya suasana nya musik mengalun tapi musik di era itu cenderung rock, hip-hop dan pop. Akhirnya saya memutuskan untuk menciptakan beberapa melodi sendiri untuk 2 scene agar bisa menyesuaikan suasana yang diinginkan dan sesuai. Saya sedikit pesimis awalnya bahwa melodi yang saya ciptakan akan bisa diterima tim sutradara. Namun, tim sutradara ternyata setuju untuk memakai melodi tersebut. Tentunya saya senang, karena akhirnya masalah pemilihan lagu telah teratasi.

Saya kira tugas saya telah selesai setelah itu, tapi saya lupa bahwa saya juga harus memikirkan timing musik. Saya harus memperkirakan sendiri kapan musik mulai diputar, kapan harus dihentikan, dan bagaimana menyesuaikannya dengan dialog para pemain. Namun, saat itu naskah masih banyak perbaikan sehingga banyak juga saya harus merevisi audio-audio yang akan dipakai. Jujur saya merasa gugup mengingat waktu semakin menipis dan run through drama belum dilakukan. Hingga akhirnya, hari demi hari kelas kami berlatih dan hari demi hari juga saya belajar banyak. Saya menjadi memahami alur cerita diluar kepala dan perlahan-lahan bisa merasakan kapan emosi bisa dibangun melalui musik dan kapan hening. Timing musik tidaklah menjadi masalah bagi saya lagi. Walau memang sebelumnya beberapa kali latihan bersama, kelas kami termasuk salah satu kelas yang kacau. Sedih? Tentu. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Saya akui kelas kami memang banyak terjadi  kesalahpahaman antar anak dan  perannya masing-masing, termasuk saya yang saat itu salah paham mengenai urutan adegan. Saran dan komentar dari guru semuanya kami terima dengan baik sebagai bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik lagi. 

Tibalah saat hari yang kami tunggu-tunggu, yaitu hari tampil Uprak. Mengingat  orang tua diundang dan datang untuk menyaksikan drama kami. Saya gugup sekaligus takut. Di hari tampil, sebagai pengatur audio, saya memiliki tugas untuk mengatur volume lagu dan mic yang dipakai para pemain. Menurut saya, peran ini sangat berat. Bocor sedikit suara dari belakang panggung, maka itu salah saya. Namun, saya berusaha untuk tetap tenang dan berdoa agar semua berjalan dengan lancar. Saat penampilan kelas kami, saya fokus untuk memastikan tidak ada suara lain yang lolos dari mic, selain dialog sari adegan yang diperankan.

Penampilan kelas kami mungkin tidak sempurna, tetapi  saya sangat bersyukur karena semua berjalan dengan lancar. Saya bahagia, karena semua usaha, latihan dan revisi yang selama ini menghantui membuahkan hasil yang indah. Meski prosesnya tidak mudah dan banyak pertikaian, kami sekelas berhasil menyelesaikan Ujian Praktek ini bersama-sama. Pengalaman ini mengajarkan saya banyak sekali hal, sekaligus menyadarkan saya terhadap beberapa hal mengenai kerja sama. Saya belajar bahwa dengan bekerja sama, walau tidak sempurna, ada kepuasan tersendiri yang bisa kita capai. Selain itu, saya juga belajar untuk bertanggung jawab atas hal yang telah dipercayakan kepada saya. Saya sadar bahwa sekecil apapun tugas yang dipegang, terkadang memiliki pengaruh yang cukup besar. 

Ujian praktek ini merubah saya dan teman-teman kelas saya,  menjadi pribadi yang lebih dewasa. Kami belajar menerima perbedaan pendapat, mengelola emosi serta memahami satu sama lain. Akhir kata, pengalaman ini adalah pengalaman berharga tentunya yang tidak akan bisa saya lupakan.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *