Refleksi Uprak /Melvin Carter Sugianto/30/XII-B1

Uprak ini menjadi pengalaman yang sangat penting bagi saya karena ini pertama kalinya saya menjadi ketua. Dari awal proses sampai akhir penampilan, saya menyadari banyak kekurangan, terutama dalam cara saya mengatur waktu, membagi tugas, dan mengantisipasi masalah.

Di awal persiapan, masalah terbesar adalah penentuan waktu untuk latihan dan pembuatan properti. Saya kurang tegas dalam menetapkan jadwal, sehingga sering sulit mengumpulkan anggota secara lengkap. Akibatnya, properti yang dibuat jumlahnya kurang dan pengerjaannya tidak maksimal. Saat pembuatan properti, yang hadir sering kali sedikit dan beberapa lupa membawa bahan. Hal ini membuat waktu terbuang, dan saya menyadari bahwa saya seharusnya melakukan pengecekan dan pengingat lebih jelas sebelumnya.

Dalam proses teknis, banyak kendala terjadi. Saat membuat base lampu dari semen, saat perpidahan props, semennya retak dan harus dibuat ulang. Papan yang sudah dibuat juga sempat copot H-3 sebelum penampilan. Pada situasi itu saya merasa panik karena waktunya sangat terbatas. Kami akhirnya mengganti konsep dan memasangnya pada tiang lampu sebagai solusi agar tetap bisa digunakan. Pada pembuatan kursi taman, hasil akhirnya juga tidak sesuai harapan. Wood stain membuat warna kayu menjadi kuning, lalu saat dicat cokelat warnanya justru kemerahan. Kami harus mencampur warna lain sampai mendapatkan hasil yang sesuai. Dari sini saya belajar bahwa kurangnya percobaan awal dan perencanaan detail membuat kami harus bekerja dua kali.

Dari segi tenaga, kelas kami lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki, sementara sebagian besar laki-laki berperan di depan panggung dan lighting. Hal ini membuat pembagian tenaga untuk membawa properti berat menjadi kurang seimbang. Saya menyadari bahwa saya kurang mempertimbangkan pembagian fisik sejak awal dan baru mengatur ulang ketika sudah mendekati hari tampil.

Dalam pembagian tugas drama, saya awalnya membuat PPT untuk membagi bagian masing-masing. Namun saat latihan di bangsal, banyak yang belum hafal dan belum memahami tugasnya. Waktu 1 jam 30 menit habis hanya untuk membahas pembagian dan properti, bukan latihan adegan. Di situ saya merasa bersalah karena kurang memastikan semua benar-benar paham sebelum latihan dimulai. Setelah itu, saya memperbaiki cara penyampaian dengan membuat pembagian yang lebih jelas melalui Canva dan menjelaskan ulang secara langsung. Perubahan itu membantu latihan menjadi lebih terarah.

Pada penilaian awal, guru menyampaikan bahwa drama kami kurang maksimal, perpindahan properti terlalu lama, dan durasi mencapai 28 menit dari batas 20 menit. Kritik tersebut menunjukkan bahwa kami belum efisien dan kurang disiplin dalam manajemen waktu. Setelah evaluasi, kami memotong bagian yang tidak perlu, melatih perpindahan properti agar lebih cepat, dan mencoba lebih fokus saat latihan.

Uprak ini membuat saya sadar bahwa menjadi ketua berarti bertanggung jawab atas kekurangan tim, bukan hanya hasil akhirnya. Banyak kesalahan terjadi karena kurangnya perencanaan, komunikasi, dan ketegasan dari saya sendiri. Namun dari proses itu, saya belajar untuk lebih terstruktur, lebih tegas dalam mengatur waktu, dan lebih sigap mencari solusi ketika ada masalah.

Pengalaman ini bukan tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang bagaimana memperbaiki kesalahan dan tetap menyelesaikan tanggung jawab sampai akhir.