Refleksi Uprak Drama Christopher Clarence XIIB1/09

Di gambar ini, kebetulan adalah h-1 dimana kami harus persiapan dengan matang dan tentu saja kami berlatih sekeras mungkin sebagai persiapan di hari H. Bagi saya pribadi yang susah adalah untuk keep staying calm dan benar-benar tidak panik karena kepala saya sudah full dan sangat stress karena mendekati hari H. Tapi beruntung kami sekelas saling support satu dengan yang lain walaupun jarang sekali kompak.

 

 

Ini adalah ketika h-2, panik nya mulai terasa dan bagi saya h-2 benar-benar membuat saya tidak bisa tidur memikirkan bagaimana kelas kami kedepannya. Tapi di h-2 saya juga gabisa ngapa-ngapain, sudah tidak ada yang perlu diubah dan hanya perlu mempersiapkan mental saja, jadi saya ya hanya full bermain game untuk menenangkan diri.

 

 

 

 

 

Ini ketika kita latihan di ruangan francis, saya lupa tanggal berapa, tapi ini sekitar 2 minggu sebelum tampil dan kita yang aktor-aktor berkumpul dalam satu lingkaran dan kita saling mengkoreksi satu sama lain, dari vokal, artikulasi, nada dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

From One of the Worst, to One of the Best.

Christopher Clarence XIIB1/09

Ketika saya awalnya terpilih sebagai karakter utama, saya merasa dibebani dengan tanggung jawab yang begitu besar dan saya sering stress sendiri. Bagi saya menjadi karakter utama bukanlah suatu pekerjaan yang mudah apalagi semua orang tidak mau untuk menjadi karakter utama yang tampil di hari H. Bagi saya tentunya ini adalah sebuah opportunity untuk mengembangkan suatu skill yang bisa saja berguna di masa depan. Lalu mengingat bahwa kelas kita bukanlah kelas yang begitu kompak dan kelas yang mau bekerjasama juga menambah beban di kepala saya. Mengingat saya bukanlah teman yang difavoritin oleh semua orang dan saya harus figured out the way to give my all membuat saya juga sangat terbebani dan hampir berhenti di tengah jalan. Namun ketika saya membicarakan ini kepada teman-teman saya, yang saya lihat bukanlah pemahaman mereka akan kondisi saya, melainkan rasa desperate karena tidak ada yang mau menjadi karakter utama seakan tidak peduli dengan kondisi saya. Saya yang melihat keputusasaan kelas saya hanya berpikir, saya harus maju menjadi karakter utama karena saya tahu, peluang yang saya berikan untuk mengenal para guru, opportunities yang mendatang juga banyak sekali jadi saya memutuskan untuk lanjut membawa beban yang begitu berat. Walaupun kelas kami memang tidak begitu kompak, tapi kami berhasil memberikan yang terbaik di hadapan umum dan membuat para guru serta orang tua terkesan. Hal inilah yang menyenangkan bagi saya, mengingat banyak sekali cobaan yang kami hadapi dan kami sendiri berusaha untuk menyatukan kelas walaupun pada akhirnya juga gagal karena dari settingan pabrik sudah tidak mau untuk menyatu. Rasanya ada barrier sosial yang begitu besar sudah seperti kesenjangan sosial. Ya mau gimana lagi memang pada dasarnya begitu sejak awal saya menduduki kelas ini.

 

Tantangan terberat bagi saya adalah membawa ekspektasi para teman, guru, orang tua yang begitu besar. Namun bagi saya, ini sama seperti big match, yang penting pede dan maju saja tanpa memikirkan apa kata orang. Jika ekspektasi orang setinggi langit, just to let you know that i can reach the sky, karena saya tahu batas kemampuan saya dan saya sangat percaya diri dengan yang dipercayakan ke saya, membuat drama ini menjadi drama yang paling berkesan di dalam hati saya, yang lebih berkesan adalah ketika saya melakukan semua ini dengan sepenuh hati tanpa memikirkan nilai yang saya dapat membuat saya bisa tampil dengan pede, tanpa rasa takut, tidak gemeteran, tidak ndredeg, benar-benar tenang dan mendalami tokoh joko pinurbo. Saya mengambil filosofi dewa Icarus yang katanya ” dengan sombong ” mencoba menggapai matahari. Bagi saya dewa Icarus bukanlah sombong, bukan angkuh, melainkan seseorang yang berani untuk mengambil resiko, walaupun pada akhirnya harus mati. Begitulah mentalitas yang saya pegang selama uprak drama ini.

 

Akhir kata, saya berterima kasih kepada teman-teman yang telah mempercayakan Joko Pinurbo ke saya, terima kasih telah berlatih bersama – sama selama ini dan terima kasih atas segala pengorbanan baik dalam bentuk uang, waktu, maupun tenaga dalam uprak kali ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para guru yang telah menyaksikan kelas XII B1, kami bangga dengan apa yang kami tampilkan.

 

“Hidup adalah pustaka cinta, yang tak akan habis dibaca.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *