Uprak kelas saya mengangkat tokoh Joko Pinurbo yang kerap dipanggil Jokpin. Beliau
adalah seorang penyair terkenal asal Indonesia. Selama masa hidupnya, beliau melewati berbagai
pengalaman hidup serta cobaan hidup yang beragam, namun kejadian hidupnya yang paling
menarik menurut saya adalah saat beliau berubah pikiran dari yang awalnya ingin menjadi romo
tiba-tiba mau menjadi seorang penyair. Keputusan ini tentunya tidak mudah karena beliau sudah
bersekolah lama di seminari, namun tiba-tiba karena suara hatinya, beliau memutuskan menjadi
penyair. Saat menyampaikan keputusannya ini kepada orang tuanya, tentu kedua orang tuanya tidak
setuju dan kecewa berat, terutama ayah Jokpin. Dalam uprak saya, ayah Jokpin digambarkan sangat
marah hingga ia membanting koran dan langsung meninggalkan meja makan begitu mendengar
Jokpin ingin pindah haluan menjadi seorang penyair. Ibunya yang juga ada di momen itu hanya bisa
menahan sedih dan menenangkan Joko yang dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Hal ini sangat
menarik bagi saya karena tentu Jokpin membutuhkan keberanian dan tekad yang besar untuk
akhirnya memutuskan pindah haluan menjadi seorang penyair, terlebih beliau juga ditentang keras
oleh ayahnya.
Menurut saya, dua keutamaan Vinsensian yang paling menonjol dari sosok Jokpin adalah
matiraga dan kerendahan hati. Salah satu aspek utama dari matiraga adalah penyerahan diri dan
kepasrahan yang menyeluruh kepada Tuhan. Pada saat awal-awal beliau ingin berpindah haluan
menjadi seorang penyair, tentu beliau memiliki banyak pergumulan dan ketidakyakinan di dalam
hatinya. Beliau pasti juga sangat bimbang, apalagi setelah dimarahi dan ditentang keras oleh
ayahnya. Namun, satu hal yang pasti, beliau pasti memasrahkan segalanya kepada Tuhan. Beliau
mempersembahkan masalah-masalah dan pergumulan hatinya kepada Tuhan saat beliau berdoa.
Dengan hal itu, beliau bisa merasa lebih tenang karena beliau tahu bahwa Tuhan pasti memiliki
rencana yang besar dan baik bagi dirinya. Selain itu, beliau pasrah saat dimarahi oleh ayahnya.
Beliau menekan segala ego dan keinginannya untuk melawan dengan bermati raga. Kalau saya
menjadi Jokpin, mungkin saya akan melawan ayah saya dan berusaha meyakinkan ayah saya bahwa
jalan ini adalah jalan yang benar. Selain bermatiraga, beliau juga merupakan sosok menerapkan
keutamaan Vinsensian rendah hati. Saat di bagian ending uprak drama kelas saya, beliau
diwawancarai dan ditanya pendapatnya mengenai julukan ‘Sang Lurah Puisi’ yang diberikan
kepada dirinya. Beliau dengan rendah hati hanya menjawab “ah enggak lah”. Hal tersebut
menunjukkan bahwa dengan segala pencapaian dalam hidupnya, beliau tetaplah sosok yang rendah
hati dan tidak sombong. Beliau bisa saja berbangga diri dan menjelaskan mengapa beliau layak
dijuluki sang lurah puisi, namun beliau tetap memilih rendah hati, respect.
Peran saya dalam uprak drama musikal kelas saya ini adalah menjadi pengatur lampu sorot
atau spotlight. Dalam peran ini, saya bertugas untuk menentukan dan mengatur placement dan
timing lampu sorot selama drama berlangsung. Jujur, hingga saat refleksi ini ditulis, saya belum
pernah latihan sama sekali karena memang harus menunggu gladi bersih dan gladi kotor untuk
berlatih bersama vendor. Namun, bukan berarti saya tidak berkontribusi sama sekali sebelum hari
H. Saya ikut membantu mengoreksi kesalahan teman-teman saya seperti akting yang kurang natural
dan lain lain. Dari tugas ini, saya belajar bahwa untuk berkontribusi, saya tidak perlu menunggu
hari H atau sampai saya memang harus bertugas, tapi saya bisa ikut membantu dengan memperbaiki
beberapa kesalahan teman saya. Saya juga belajar bahwa tidak ada hal yang langsung sempurna.
Segala hal pasti perlu latihan seperti uprak kelas saya. Awalnya uprak kelas saya memang jelek,
namun setelah latihan dan evaluasi terus menerus, uprak kelas saya bisa bagus.