Backstage to Breakthrough
Ujian praktik pagelaran yang kami laksanakan pada 12 Februari 2026 menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama saya bersekolah. Projek kami berjudul “Joko Pinurbo: Sang Lurah Puisi”, yang mengangkat sosok penyair Indonesia dengan gaya puisi yang sederhana namun penuh makna. Melalui pagelaran ini, saya tidak hanya belajar tentang seni pertunjukan, tetapi juga tentang tanggung jawab, kepemimpinan, dan kerja keras dalam tim.


Dalam pagelaran ini, saya dipercaya menjadi sie perkap (perlengkapan) dan penerima tamu. Tugas saya adalah mengatur seluruh properti di backstage, memastikan semua properti tersedia tepat waktu, serta mengatur keluar-masuknya sesuai urutan adegan. Selain itu, saya juga ikut terlibat langsung dalam pembuatan properti. Kontribusi ini menuntut saya untuk teliti, sigap, dan mampu berpikir cepat karena kesalahan kecil dalam pengaturan properti bisa berdampak pada jalannya pertunjukan.
Di awal latihan, saya sempat merasa kewalahan. Pembagian tugas yang belum jelas membuat saya bingung menempatkan properti dengan benar dan cepat. Backstage sering kali kacau dan kurang terkoordinasi. Namun, saya berinisiatif untuk mulai mencatat urutan properti dan membantu menyusun sistem yang lebih rapi agar alur keluar-masuknya lebih teratur. Dari situ, saya belajar untuk tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga mencari solusi ketika ada masalah.
Selain kendala teknis, kami juga mengalami miskomunikasi antar anggota kelas, salah satunya saat rilis poster. Ada dua pilihan poster yang hampir dipublikasikan secara bersamaan sehingga menimbulkan ketegangan. Situasi sempat memanas karena ada yang merasa didahului. Namun, kami akhirnya duduk bersama dan berdiskusi hingga menemukan keputusan terbaik. Saya belajar bahwa komunikasi yang terbuka sangat penting agar konflik tidak berkembang menjadi perpecahan.
Perbedaan pendapat juga terjadi dalam menentukan urutan memasukkan properti ke panggung. Diskusi yang awalnya berjalan biasa sempat berubah menjadi perdebatan. Namun, saya berusaha tetap fokus pada tujuan bersama dan mendukung solusi yang paling efektif untuk kelancaran pertunjukan. Akhirnya, kami sepakat menggunakan sistem yang disetujui bersama sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman.

Momen paling berkesan terjadi ketika kami dinilai oleh guru-guru dan dinyatakan masih sangat kacau. Evaluasi yang kami terima cukup keras dan membuat semangat kami sempat turun. Namun, di situlah saya melihat kekuatan kebersamaan kelas kami. Kami memilih untuk tidak menyerah. Dengan waktu kurang dari dua minggu, kami berlatih terus-menerus untuk memperbaiki setiap kekurangan. Di bagian perkap, saya memastikan properti sudah tersusun sesuai urutan sebelum latihan dimulai agar tidak ada lagi kesalahan teknis.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. H-3 pagelaran, saat dinilai kembali, kami menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Guru-guru mengapresiasi progres kami yang luar biasa. Dari yang sebelumnya dinilai paling kacau, kami mampu bangkit dan memperbaiki diri dalam waktu singkat.
Pada hari-H, 12 Februari 2026, kami menampilkan “Joko Pinurbo: Sang Lurah Puisi” dengan penuh percaya diri. Pagelaran berjalan lancar. Properti tertata dengan baik, perpindahan adegan lebih rapi, dan tidak ada kekacauan di backstage. Saya merasa bangga karena kontribusi saya sebagai sie perkap ikut membantu kelancaran pertunjukan secara keseluruhan.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan adalah hasil dari kerja keras, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri. Saya bangga pada diri saya sendiri karena mampu menjalankan peran dengan maksimal, dan saya juga bangga pada kelas saya yang tidak menyerah meskipun sempat berada di titik terendah. Pagelaran ini menjadi bukti bahwa ketika kita mau bekerja sama dan berjuang bersama, kita bisa bangkit dan bersinar.





